Military Operation Other Than War (Operasi Militer Selain Perang)

•14 Maret 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Military operations other than war (‘MOOTW’) is a concept in United States military doctrine that refers to the use of military capabilities across a range of operations that fall short of outright war. Military operations other than war focus on deterring war, resolving conflict, promoting peace, and supporting civil authorities in response to domestic crises. MOOTW may involve elements of both combat and non-combat operations in peacetime, conflict, and war situations. MOOTW involving combat, such as peace enforcement, may have many of the same characteristics of war, including active combat operations and employment of most combat capabilities.

Because of political considerations, MOOTW operations normally have more restrictive rules of engagement (ROE) than in war.

MOOTW purposes may include to deter potential aggressors, protect national interests, support the United Nations (UN), or provide humanitarian assistance.

There are six MOOTW principles: objective, unity of effort, security, restraint, perseverance, and legitimacy. The first three are derived from the principles of war, and the remaining three are MOOTW-specific.

  1. Objective: The aim of MOOTW is to direct every military operation toward a clearly defined, decisive, and attainable objective. Inherent in the principle of objective is the need to understand what constitutes mission success, and what might cause the operation to be terminated before success is achieved.
  2. Unity of Effort
  3. Security: The goal here is to never permit hostile factions to acquire a military, political, or informational advantage.
  4. Restraint: Judicious use of force is necessary, carefully balancing the need for security, the conduct of operations, and the political objective. Commanders at all levels must take proactive steps to ensure their personnel know and understand the ROE and are quickly informed of changes, otherwise it can result in fratricide, mission failure, and national embarrassment. ROE in MOOTW are generally more restrictive, detailed, and sensitive to political concerns than in war.
  5. Perseverance: Some MOOTW may require years to achieve the desired results.
  6. Legitimacy: The goal here is to have committed forces sustain the legitimacy of the operation and of the host government, where applicable. In MOOTW, legitimacy is a condition based on the perception by a specific audience of the legality, morality, or rightness of a set of actions.

Effect Based Opperation

•14 Maret 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Effects-Based Operations (EBO) is a United States military concept which emerged after the 1991 Gulf War for the planning and conduct of operations combining military and non-military methods to achieve a particular effect. The doctrine was developed in light of the emergence of new threats in irregular or small-scale fourth generation warfare, and a shift towards Operations Other Than War (OOTW), as opposed to formally-declared wars and major force-on-force third generation warfare doctrines of the Cold War.

Most recently, Joint Forces Command, the caretaker of US Military Joint Warfighting doctrine, issued memorandum and a guidance documents from the commander, Marine General James Mattis, on Effects Based Operations. In these documents dated 14 August, 2008 Mattis says, “Effective immediately, USJFCOM will no longer use, sponsor or export the terms and concepts related to EBO…in our training, doctrine development and support of JPME (Joint Professional Military Education).” Mattis went on to say, “…we must recognize that the term “effects-based” is fundamentally flawed, has far too many interpretations and is at odds with the very nature of war to the point it expands confusion and inflates a sense of predictability far beyond that which it can be expected to deliver.” See Defense Daily piece in references below.

HUT TNI AU, Harapan dan Cita-citaku

•9 April 2008 • 4 Komentar

Hari ini TNI AU berulang tahun yang ke-62. Usia yang cukup tua dan dewasa dalam ukuran manusia. Ternyata, TNI AU bahkan lebih tua dari almarhum ayahku seandainya beliau masih hidup.Lantas, harapan apa yang ingin kita wujudkan sebagai generasi muda TNI AU, sebagaimana layaknya orang yang berulang tahun? Cita-cita yang ingin diwujudkan?

 

Sebagai seorang Perwira TNI AU, saya sendiri sangat berharap dengan bertambahnya usia TNI AU ini maka semakin berkembang juga Sang Sayap Tanah Air ini. Sayap yang benar-benar bisa membawa Indonesia terbang ke angkasa setinggi-tingginya. Sayap yang bisa melindungi negeri ini dari tangan-tangan jahil dan tak bertanggung jawab. Sayap yang bisa menghancurkan semua pengacau yang ingin merebut kemerdekaan bangsa ini. Sayap yang bisa mengayomi semua orang Indonesia yang ingin hidup makmur, tentram, damai dan bahagia.

 

Bisakah semua harapan itu terwujud? Rasanya bisa, karena memang harapan itu tidaklah terlalu muluk untuk diimpikan, tetapi memang tidak mudah untuk diwujudkan. Sulit, bukan mustahil, menandakan bahwa kita bisa. Bagaimana hal itu bisa terwujud?  Kita perlu menggabungkan semua energi yang kita miliki untuk mewujudkannya. TNI AU bukanlah perwakilan dari seseorang, sebuah kelompok atau sepasukan manusia. TNI AU adalah sistem yang memerlukan energi yang besar untuk terus berjalan. Energi tersebut didapatkan dari energi masing-masing subsistem yang bergabung, bersinergi, bekerja sama dan saling terkait sehingga mampu menjalankan dan menampakkan daya kerja dan daya saing yang sangat tinggi. Bila energi itu telah terkumpul dan bersatu, tidak ada yang mustahil bagi kita. Bisa!

 

Apa cita-cita kita selanjutnya? Dulu, para penduhulu kita bercita-cita untuk terus mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Menurut saya, cita-cita kita adalah mempertahankan kedaulatan negara kita. Kedaulatan bukan hanya berarti merdeka, tetapi juga bebas menentukan sikap, bebas bertingkah laku dan tidak ada tekanan yang menimpa baik secara fisik atau pun secara mental. Indonesia harus menjadi negara yang terkuat di dunia ini. Berat? Namanya juga cita-cita. Harus setinggi mungkin, sehingga bila tercapai hanya 80%, maka kita tetap akan menjadi yang kuat sekali.

 

Kemudian, apa yang harus saya lakukan untuk mewujudkan itu? Saya harus bisa memberikan energi yang saya miliki untuk digabungkan dengan energi para personel TNI AU yang lain. Saya akan terus mendidik Karbol (secara akademik ataupun pengasuhan), saya akan terus menulis apa yang menurut saya baik dan saya akan terus menjaga persatuan. Mudah-mudahan energi ini yang diperlukan TNI AU sehingga tidak sia-sia. Amin!!!

 

Dirgahayu TNI Angkatan Udara! Jadi Swa Bhuwana Paksa!

SEPULUH HAL TENTANG KEKUATAN UDARA

•8 April 2008 • 1 Komentar

1. Keunggulan di udara merupakan langkah yang sangat penting untuk mencapai kemenangan. Menguasai udara pada umumnya juga berarti menguasai darat dan laut.

2. Kekuatan udara mempunyai kemampuan strategis yang sangat besar.

3. Kekuatan udara merupakan sebuah senjata ofensif, yang selalu dilengkapi dengan kecepatan, daya jangkau dan fleksibelitas. Peribahasa mengatakan, “pertahanan terbaik adalah suatu serangan yang baik”.

4. Pada dasarnya, kekuatan udara adalah penentuan sasaran, penentuan sasaran adalah intelijen dan intelijen adalah penganalisaan efek-efek operasi udara.

5. Dengan penguasaan waktu yang baik dan tepat, kekuatan udara akan menimbulkan kejutan fisik dan psikologis yang hebat.

6. Kekuatan udara dapat melakukan operasi-operasi paralel pada semua tingkat perang secara simultan.

7. Senjata dalam jumlah besar telah terdefinisi ulang oleh senjata udara yang memiliki ketepatan tinggi.

8. Perang udara tidak dapat terpisah dalam paket-paket kecil dan terbatas oleh darat atau laut. Perang udara adalah satu kesatuan dan memerlukan kesatuan komando.

9. Keunggulan teknologi akan mendukung keunggulan udara karena dua hal itu mempunyai keterkaitan secara terpadu dan sinergistik.

10. Kekuatan udara tidak hanya meliputi aset militer, melainkan juga industri kedirgantaraan dan penerbangan sipil

SPEED, POWER & COURAGE

•7 April 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Tantangan masa depan bagi Karbol makin hari makin banyak dan bervariasi. Mereka dituntut untuk bisa berfikir jauh ke depan dan mempersiapkan diri mereka dengan baik demi mencapai kesiapan diri mereka untuk menjadi perwira TNI AU yang handal dan cekatan. Setelah mereka dituntut untuk menjadi manusia yang tanggap, tanggon dan trengginas, muncul pula gagasan untuk menjadikan Karbol sebagai manusia yang mempunyai kecepatan, kekuatan dan keberanian dalam menghadapi tugas dan tanggung jawab mereka.

 

Kebutuhan akan tiga komponen itu diwujudkan dalam sebuah motto “Speed, Power & Courage”. Motto tersebut banyak memiliki harapan dan keinginan untuk meningkatkan kualitas Karbol yang disiapkan oleh AAU demi menghadapi tantangan dan perkembangan bagi TNI AU di masa depan. Dengan menguasai ketiga komponen itu, diharapkan masa depan bagi kita semua akan menjadi lebih baik dan cerah.

 

Dalam tulisan ini, penulis mencoba menganalisa motto “Speed, Power & Courage” tersebut secara definisi dan pengertian. Diharapkan dengan mengertinya pembaca terhadap definisi motto tersebut, makin mudah pula pembaca memahami maksud dan tujuan dibuatnya dan diterapkannya motto itu pada kehidupan Karbol.

 

SPEED (Kecepatan)

 

Secara harfiah, speed diartikan sebagai kecepatan. Menurut Accurate & Reliable Dictionary, speed diartikan sebagai perubahan gerakan yang cepat, pergerakan menuju kemakmuran, atau pergerakan yang cepat dalam kondisi apapun, baik atau buruk. Sedangkan Wikipedia mengartikannya sebagai tingkat gerakan atau perubahan posisi yang digambarkan dengan jarak dan waktu.

 

Dalam kecepatan, tidak akan diperhatikan pesan moral di dalam perubahan gerakan tersebut. Yang terpenting adalah penggunaan waktu.

 

Bagi seorang Karbol, kecepatan sangat diperlukan untuk menghadapi banyak tugas dan tanggung jawab dan dengan waktu yang amat terbatas. Tiap waktu menjadi sangat berharga dalam menyelesaikan tiap tugas mereka. Kecepatan dapat berbentuk antara lain kecepatan menangkap dan memahami pelajaran, perintah, tugas dan menyelesaikan tugas mereka baik secara individu atapun kelompok.

 

Power (Kekuatan)

 

Menurut Thinkexist.com, Power (Kekuatan) diartikan sebagai :

 

a.            Kemampuan untuk bertindak, baik secara nyata ataupun  kasat mata.

b.            Kemampuan alamiah seseorang untuk mewujudkan sesuatu.

c.            Kemampuan seseorang untuk menimbulkan efek, baik secara fisik atau moral.

d.            Kemampuan mental atau moral seseorang untuk bertindak, yang didasari oleh jiwa sehingga mampu berfikir, beralasan, memutuskan, berkeinginan, berharap dan lainnya.

 

Pada Kekuatan, inti penggunaannya adalah pada efek atau hasil yang ditimbulkan.

 

Kekuatan seorang Karbol, adalah kekuatan fisik dan mental mereka yang tumbuh dari dalam diri mereka sendiri sehingga mampu berfikir, bertindak dan bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan dalam mewujudkan cita-cita mereka.

 

Courage (Keberanian)

 

Menurut Wikipedia, Courage bisa disamakan dengan bravery, will dan juga fortitude yang artinya adalah kemampuan untuk menghadapi rasa takut, rasa sakit, resiko, bahaya, ketidakteraturan atau intimidasi. Keberanian bisa digolongkan menjadi dua , fisik dan mental. Keberanian secara fisik berarti keberanian menghadapi sakit secara fisik, kekerasan atau kematian. Sedangkan keberanian secara moral adalah keberanian untuk bertindak benar dan tegas terhadap lawan, rasa malu, skandal atau ketakutan.

 

Keberanian dapat diartikan menurut berbagai cara, antara lain :

 

a.            Menurut Filosofi. Menurut Tao Te Ching, keberanian (baik secara fisik atau moral) dihasilkan oleh cinta  (“Loving causes ability brave”) dan dia menjelaskan bahwa orang yang berani tetapi sembrono, akan mendatangkan kematian, sedangkan orang yang berani dan telaten akan menjaga kehidupannya. Dengan demikian, keberanian fisik dan moral sama penting pada setiap pertempuran.

b.            Keberanian Rakyat. Biasanya keberanian rakyat akan muncul ketika adanya penguasa yang dianggap tidak adil. Oleh karena itu, keberanian rakyat adalah keberanian untuk melawan ketidakadilan dan kejahatan.

c.            Valour. Menurut Royal Military of Canada Officer Cadet Handbook halaman 15, keberanian disamakan dengan kata valour yang artinya kekuatan moral yang diperlukan untuk mewujudkan tugas seseorang dengan baik. Konsep valour ini menjembatani antara kebenaran dan tugas sehingga setiap orang mampu melaksanakan tugas dengan baik dan menjalani hidup dengan tenang apapun yang terjadi.

 

Seorang karbol diharapkan berani untuk melatih dan mempersiapkan diri demi masa depan mereka, berani bertindak benar dan tegas dan berani melaksanakan tugas dengan baik apapun resiko yang harus dihadapinya.

 

Kesimpulan

 

Setelah karbol mampu menguasai speed, power & courage, diharapkan semua langkah kerja mereka bisa dengan cepat terlaksana, mampu untuk berfikir, bertindak dan memutuskan serta dengan fisik dan moral berani untuk menghadapi segala bahaya dan resiko demi kebenaran serta menjalankan tugas mereka dengan baik.

 

 

Referensi :

 

1.            Wikipedia, Speed, http://en.wikipedia.org/wiki/Speed, 10 Maret 2008.

2.            Accurate & Reliable Dictionary, Speed, http://www.ardictonary.com, 10 Maret 2008.

3.            Thinkexist.com, Power Meaning and Definision, http://www.thinkexist.com, 10 Maret 2008.

4.            Wikipedia, Courage, http://en.wikipedia.org/wiki/Courage, 10 Maret 2008.

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.